Posts

Showing posts with the label Filsafat

Fenomena Eksistensi dan Alienasi Manusia Melalui Jejaring Sosial

Generasi yang lahir di era tahun 80 dan 90 mungkin adalah generasi yang benar-benar lahir di era peledakan teknologi dan benar-benar mengalami fenomena tersebut. Dengan lahirnya internet melalui world wide web (www), kemudian generasi ini lahir ditelan pesatnya kemajuan teknoloogi yang semakin menyatukan seluruh dunia lewat layar kaca yang sekarang ini bahkan dapat diakses dari genggam tangan manusia seluruh dunia. Sejak manusia pertama kali dapat berpikir dan menggunakan akal sehatnya dan mengekspresikan pemikiran dan keinginannnya lewat hal-hal yang berada di luarnya, manusia kemudian berinovasi untuk menggunakan banyak hal-hal yang nyata maupun abstrak, benda maupun pemikiran, untuk menjadi atribut yang melengkapi diri manusia dan secara personal menjadikannya utuh. Manusia bereksistensi, dan ia hanya dapat bereksistensi melalui hal-hal yang berada di luarnya. Sejak lahir manusia bereksistensi dalam tiap saat kehidupannya, dari awal hidupnya ia bereksistensi lewat suara tangis...

Menyambut 2011 di Rimba Jakarta

Image
Photo: Kartika Dian Fransiska 's Personal Archive Pergantian tahun adalah sebuah penanda perubahan waktu, yang kemudian mengalir menjadi penanda akan berakhirnya sebuah masa dan lahirnya masa yang baru. Masa kemudian sebagai rahim peradaban akan melahirkan sebuah karya kolektif yang kemudian secara tidak langsung berdampak bagi setiap individu yang ada di dalamnya. Karya adalah sebuah makna zaman yang terpancar lewat tangan dan pemikiran manusia yang hidup dalam suatu pusara waktu, dimana jiwa dan harapan koletif masyarakat kemudian tercermin, terefleksikan secara gamblang –walaupun tidak sungguh-sungguh eksplisit. Namun paling tidak semangat dan spirit kolektif masyarakat dapat direnungkan dan lebih jauh dipetik hikmah dan pelajarannya. Macet sudah pasti bukan sebuah hal yang asing bagi masyarakat Jakarta. Macet bukan barang baru dan bukan sebuah momok baru bagi mereka yang setiap hari harus bepergian dan menempuh waktu mereka di jalan raya –kalau boleh secara lebih gamblang d...

Imaji Lennon

“Imagine there’s no heaven, it’s easy if you try. No hell below us, above us only sky. Imagine all the people, living for today.” Bayangkan sebuah dunia tanpa surga, dimana manusia hidup berdampingan, kemudian memikirkan bagaimana mereka dapat hidup untuk hari ini saja. Sepenggal esensi kemanusiaan di atas, yang pernah dipopulerkan John Lennon tersebut, mungkin tidak akan pernah leleh dibakar oleh api kemarahan dan kebencian yang telah memperkosa umat manusia sejak awal tercatatnya berbagai macam kisah, roman dan tragedi kemanusiaan dari awal mula spesies homo sapiens berevolusi. Lennon sama sekali bukan seorang jenius yang luar biasa bertalenta untuk dapat menggubah susunan simfoni dan lirik yang telah lebih dari lima dekade menggugah manusia untuk membangun pelbagai cara membentuk dunia yang lebih damai. Ia hanya seorang yang cukup sensitif untuk merespon harapan umat manusia dan mengejewantahkannya lewat bahasa universal manusia, yakni musik. Bumi ini sudah tua, ta...

Mencatat Konsep Alternatif Keperawanan

Image
“I think people should be free to engage in any sexual practices they choose; they should draw the line at goats though.” - Elton John Photo: Mahatma Putra 's Personal Archive Aksara adalah simbol keadaban manusia. Dengan akrasa akhirnya manusia bisa mencatat dan berbagi kisah hidup, pengalaman personal, pengalaman masyarakat, bahkan pengalaman bangsa dari generasi ke generasi. Pencatatan akhirnya menjadi sesuatu yang penting untuk menilai validitas sebuah peryataan yang terkait dengan masa lalu --yang secara tidak langsung mengikat masa depan. Sebuah pernyataan selalu bergantung pada asumsi, syarat dan pilihan. Asumsi kemudian mengarahkan manusia pada pembuatan hipotesa yang sarat dengan syarat sebagai pemenuhan sebab-akibat, dan meninggalkan tidak hanya satu, tapi berbagai macam pilihan atau alternatif kesimpulan yang mengarah pada suatu nilai kebenaran. Dalam berasumsi manusia tidak pernah lepas dari hasrat dan pandangan subjektifnya dalam melihat suatu permasalahan....

Dialektika Tentang Manusia Lewat Homo Floresiensis

Homo Florsesiensis adalah spesies yang ditemukan pada tahun 2007 di Liang Bua, Flores, NTT, Indonesia. Penemuan tentang spesies manusia baru diluar daripada Homo Sapiens dan Homo Neandertal di tanah flores ini secara tidak langsung mengubah konsep manusia yang sekarang sudah terbentuk di dunia. Dalam peradaban sekarang, manusia tergolong dalam spesies Homo Sapiens. Perkembangan tentang bagaimana manusia untuk menjadi manusia seperti sekarang pun, yakni melalui evolusi, masih mempunyai banyak pertentangan dan berbagai macam teori dukungan dan sanggahan. Sedangkan nenek moyang Homo Floresiensis dikatakan berasal dari Homo Erectus yang kemudian mengembara dan berhenti di ujung lautan di Flores, diluar fakta bahwa masih banyak kontroversi tentang eksistensi dari Homo Floresiensis itu sendiri. Yang sangat menarik dari fenomena ini adalah bahwa Homo Floresiensis adalah jenis manusia yang mempunyai tinggi badan maksimal 100 cm, yang menurut para ahli antropologi, merupakan salah satu be...

Insecurity: Because to Love is to Become Insecure

Image
  "For the words that flows from your heart are my finest tranquilizer"  The story began when loads of smoke exhaled throughout my mouth, the uncountable substances that flew out from my mouth to fill the room that fully loaded with unstable people that would like to complete themselves thoroughly, for their essence in life are to seek the meaning of life by living their life undeniably, free from our tight social-constructed system. I have had a contenting experience with the one, whose name is reflecting the purpose of my own life to illuminate the black nights, ascribing the essence of loneliness that indirectly spoke in the name of the truth, and then conquered it once and for all, for today. For the taper always be the source of light in our small and peaceful hut, and the stars always shine to direct the way in the age of the darkness, accompanying pilgrims to wade the oceans, all over again. And there will be Set, our mighty Egyptian god that always have killed ...

Mitos dan Logika

Sejak zaman dahulu banyak sekali bentuk-bentuk kebijaksanaan yang dijewantahkan dalam bentuk cerita dan mitos-mitos sederhana agar dapat dimengerti dan diterapkan dengan mudah oleh masyarakat awam. Sejak zaman dahulu manusia telah berusaha menjelaskan konsep diri mereka sebagai manusia dan hubungan mereka dengan alamnya lewat ilmu filsafat sederhana bernama mitos. Mitos bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. Segala sesuatu yang ada di balik cerita rakyat dan legenda dibagian mana pun di dunia ini pasti mempunyai sebuah nilai yang disusupkan di baliknya. Kita ambil contoh mitos Horus dan Set di Mesir, juga Thor dan Frejya di Norwegia. Melalui mitos tentang Horus dan Set kita belajar tentang keseimbangan antara siang dan malam. Horus digambarkan sebagai matahari yang membunuh malam yang gelap, sementara Set adalah malam yang selalu akan membunuh siang. Horus dan Set adalah penjelasan peradaban mula-mula tentang pergantian hari dan metamorfosa di balik har...

One of The Ways

Image
  “Even if thousands of Socrates resurrects and have another thousand years of dialectics, still they could not describe this Love." - Mahatma Putra Photo: Mahatma Putra 's Personal Archive What I am about to write is something that is corny and shallow when it is not being experienced. It is about one's purpose in life, to find a moment when someone feels complete thoroughly. A moment when life and dead, are no longer the main points of joy and fear. Questions about God are no longer relevant when you experienced Him/Her. That moment of that experienced named love. It is all one have to experience, to feel the rush that given directly from that transcendent being, and often given separately into the hearts of two human being. Therefore, it will become something astonishing that drive them remarkably crazy to find that other half -I like to understand it as arche 1 . One’s search will stop when they give up. But for me personally, giving up is not a condition...

Hidup dan Jalan

Image
Foto: Arsip pribadi Mahatma Putra Hidup mungkin sama dengan jalan-jalan Jakarta. Suatu saat aku pernah bertanya pada adikku, "Putri, kalau jalan itu adalah hidup, lebih baik kamu tinggal di jalan tol atau di jalan biasa seperti di luar sana?" Kebetulan saat itu kami sedang berkendara di jalan tol menuju Bandung. Adikku menjawab, "Di jalan biasa-lah!" Aku mengerti sekali jawabannya. Tanpa ia menyebutkan alasan sama sekali aku juga tidak akan pernah ragu untuk menjawab hal yang sama. Berjalan di lajur bebas hambatan seperti 'mencurangi' hidup dengan berbagai macam alasan untuk menghindar dari berbagai macam masalah yang seharusnya dihadapi muka ke muka dalam hampir tiap saatnya. Kadang jalan tol membuat segalanya lebih mudah. Kita terbebas dari sistem, bisa melaju sesukanya (kadang batas kecepatan maksimum dan minimum tidak pernah ada), berada di jalur yang notabene lebih luas dan disana tinggal sedikit sekali manusia. Tetapi tentu harus dengan beb...

God, You've Fallen from The Sky!

Image
Photo: Mahatma Putra 's Personal Archive I used to see ‘a’ world in black and white. Yes, I was a color-blinded person. I had never seen colors before, and sometimes, especially, when the night was very dark, it was funny and dizzy to walk on the street. But I’ve changed –now I see colors in everything! Not because I’ve had an eye-surgery and replace my color-blinded eyes with some fresh-colored eyes. I had some kind of holy- dumoly -magic-water poured into my eyes, and suddenly I saw that sky’s color was not a light gray, it was blue, and my girlfriend’s nipple was pink! I thought it was very grayish, near to the white. It was my first day to see the real world. God is great, eh? But still, I did not know what was the purpose of my new eyes, that most of the people I met, ever so often said that it was a gift from God. Then I used to reply them arrogantly yet frantically, “don’t you dare to tell me as if I don’t know what it is!” I knew there was something more I could...

The Rise of Fashionistas

Image
Photo courtesy of Change! Magazine. Photographer: Mahatma Putra. Model: Astrid. Make-up Artist: Alya. Fashion Stylist: Arfa Suci So, what is fashion? Literally fashion was translated as a mode for people to dress, and fashion always come to the term of noun. It is a thing that cycling around the era, something abstract that tells people how to dress properly and in the end is accepted as a trend. Fashion is a trend on how people should dressed around their time, and the person who could afford to follow the trend literally -some called them the ‘fashion victim'- called fashionista . Quoting from wikipedia: "Fashion is the style and custom prevalent at a given time, and it commonly refers to current clothing styles." http://en.wikipedia.org/wiki/Fashion on September 6th, 2010. Even the open-source encyclopedia mentions it ignorantly, forgetting its own roots and history, and deviate from the origin of itself. From Oxford English Dictionary, we could ...

4 September 2010, Membendakan Manusia

Image
Kamu menggerayangi tubuhku, dengan sepoi hembus nafas angin sore. Kamu, teganya, sekarang kamu membuatku masuk angin. Hebat kamu, tuhan. Photo: Mahatma Putra 's Personal Archive _ Ini adalah sebuah kisah fiksi dan opini pribadi. Pengandaian pemikiran manusia masa depan. Mari sekarang saya bawa anda semua berkelana mengarung samudera masa -karena sepertinya kemarin saya berhasil menembus dimensi. Nah. Sekarang indonesia sedang berada di penghujung tahun 3000 masehi, apa yang berubah? Salah satu yang signifikan adalah ilmu pengetahuan. Sebenarnya eksperimen ini sudah ditemukan umat manusia sekitar tahun 2000 masehi. Dengan alat-alat canggihnya, mereka telah membelah atom menjadi bentuk terkecilnya, yaitu ketiadaan, manusia telah menemukan tentang ketidakberadaan yang ada. Karena ternyata pecahan terkecil dari proton dan elektron adalah ketidakberadaan. Manusia berada karena pada dasarnya mereka adalah bentukan partikel ketidakberadaan, mereka tidak ada. Manusia melihat ...

It

From the day all the planets formed, lived a creature that until now no one ever knew what really created it, like it was exist eternally. It was not a man nor woman, some people now will called it 'she-male,' or 'hermaphrodite.' It color always changed. Sometimes it was blue, but on the dawn of a man it skin turned black and red, when it walked around dessert its color turned green. It always shaped according to the universe needs, sometimes it was like bull, there was a time it shaped like fish and cross, but usually it shaped like a ball, a perfect circular ball. It had no eyes, no ears, nor a heart, but people now still talks to it, wanted it to watch what they do, and begged for its mercy. No one knows what the creature name. Some people called it god.

The Man Who Sold The World

We passed upon the stair, we spoke in was and when Although I wasn’t there, he said I was his friend Which came as a surprise, I spoke into his eyes I thought you died alone, a long long time ago Oh no, not me We never lost control You’re face to face With The Man Who Sold The World I laughed and shook his hand, and made my way back home I searched for a foreign land, for years and years I roamed I gazed a gazeless star, we walked a million hills I must have died alone, a long long time ago Who knows? Not me I never lost control You’re face to face With the Man who Sold the World Who knows? not me We never lost control You’re face to face With the Man who Sold the World The Man “The Man Who Sold the World” is a song written by David Bowie and popularized by Nirvana. Kurt Cobain sang this song a moment before his suicide action. Implicitly, maybe Kurt wanted to tell the people that he ‘d already sold the world. Personally, I think he overstepped David Bowi...

Amir

Amir is a title for Arabic nobleman. Around Jakarta, there was a man named Amir. He was not a nobleman, and not an Arab as well. He was a plain Javanese, flat-nosed, and a bit flat-minded. Amir like to hunt. In his spare time, he went to the jungle in Karawang, riding his old Volkswagen car, side by side with his rifle. An ordinary air-rifle inherited from his late father. For Amir, to hunt is to control, to conquer, to become god. Amir believes in god, his religious dogma, and he also believes in his dear country. He was lucky, he never doubt. He was not choosing to believe, he had been chosen. By his god and his country. In his mind at least. Beside his great devotion to his god, Amir is a mere human. A human who wants power and greatness. He wants people to envy him. Amir felt power-hunger for the first time when he was a boy. One day Amir went fishing at the lake near his school. He’s good at fishing. But today he realized something extraordinary. When he saw a f...