Wednesday, May 16, 2012

Seminggu Pertama di Sri Lanka!

Saya benar-benar tidak tahu apa yang saya harapkan ketika pertama kali memutuskan untuk pergi ke Sri Lanka. Tentu saja saya tahu bahwa Sri Lanka adalah negara yang mengadopsi ajaran Buddha Theravada, aliran Buddhisme yang diklaim sebagai aliran tertua di dunia.

Foto pertama di Sri Lanka.
Bendera dan stupa Buddha bisa ditemui di hampir setiap sudut Kolombo.

Itulah akhirnya yang membuat saya memutuskan untuk mengambil kursus singkat Buddhist Studies di Sri Lanka International Buddhist Academy. Walau Tibet terdengar lebih eksotik untuk dijelajahi, Sri Lanka punya akar sejarah yang jauh lebih kuat akan ajaran Buddha mula-mula dibanding negara-negara lain di Asia Selatan.

Theravada dibawa masuk dari India ke Sri Lanka pada abad ke 3 Masehi. Awalnya Theravada adalah salah satu cabang dari Hinayana Buddhism, yang sekarang bahkan di India sendiri kini telah punah.



Perjalanan saya menuju SIBA (Sri Lanka International Buddhist Academy) dimulai dari Airport Kolombo ke Kandy. Perjalanan darat menempuh waktu kurang lebih 3 jam. Kandy yang terletak di sentral Sri Lanka dulunya pernah menjadi Ibukota Sri Lanka pada zaman kerajaan kuno. Kandy terkenal dengan danaunya dan sebuah kuil tempat disimpannya sebuah gigi, yang dipercaya adalah gigi dari Sang Buddha.

Danau Kandy.
Pohon Bodhi di dalam kampus.

Batang pohon Bodhi yang menjalar di Kampus.
Sri Lanka International Buddhist Academy.
Asrama kampus dan pemandangan alam sekitar kampus.

Kamar asrama saya.

Bangku kosong di kelas.

Suasana alam dan Kampus yang tenang di Kandy membawa kejernihan baru untuk bisa benar-benar diam, memberi saya banyak waktu untuk bisa belajar mengamati, dan bisa menulis blog lagi!


Mahasiswi SIBA di tengah terik matahari Kandy.

Anjing yang ramah di kampus.

Sipir Asrama memainkan Serpina,
alat musik tradisional Sri Lanka.

Satu hal yang sangat membuat saya senang di sini, kafetaria kampus selalu sedia pagi, siang, malam, dengan menu vegetarian! Ah ternyata Sri Lanka sangat menyenangkan dalam hal makanan bagi saya. Dimana pun selalu ada menu khusus vegetarian, mungkin karena kebanyakan penduduk Sri Lanka juga adalah vegetarian. Untuk tiap porsi makanan di sini saya hanya perlu mengeluarkan uang 50 LKR (Sri Lankan Rupee), atau setara Rp. 3.500,00!



Ranjit menyiapkan hidangan vegetarian
dengan bahan-bahan segar!



Pertemuan saya dengan seorang biksu di SIBA membawa nafas segar bagi petualangan saya di sini.

Hemaloka, saya memanggilnya Bhante Hemaloka --Bhante adalah panggilan untuk seorang biksu. Bhante Hemaloka mengambil jurusan Buddhist Leadership sebagai konsentrasi sarjananya di SIBA.


Bhante Hemaloka bersantai di depan tempat kostnya.
Suasana jalan di Kolombo.

Beruntung bagi saya biara Bhante Hemaloka berada di Kolombo. Pada akhir pekan ia menawarkan apakah saya berminat untuk jalan-jalan ke Kolombo dan menginap di biaranya. Tentu saja! Tanpa ragu saya menerima ajakannya dan pergi menjelajah bagian lain dari Sri Lanka.

Dengan bus perjalanan Kandy-Kolombo memakan waktu kurang lebih tiga setengah jam. Sesampainya di Kolombo saya menginap di biara Bhante Hemaloka dan bertemu dengan biksu-biksu lain yang ada di sana. Saudara-Dharma, begitu mereka menyebut satu sama lain. Ada lima orang biksu yang tinggal di sana, tidak ada satu orang pun dari mereka yang berusia lebih dari tiga puluh tahun.

Sarapan pagi di Kolombo.
Makanan di kuil Bhante Hemaloka, pemberian dari umat.
Sofa kebesaran para Biksu di Kuil Bhante Hemaloka di Kolombo. 

Lucunya, ternyata budaya "nyirih" bukan cuma ada di Indonesia. Para biksu di sini tidak merokok, namun budaya menyirih laris manis. Saya bahkan ikut mencoba merasakan "nyirih" ala Sri Lanka.





Bhante Dhammasena belajar memotret.

Saat saya datang ke Sri Lanka untuk belajar tentang Buddhism, seorang biksu di sini malah tertarik untuk belajar photography. Bhante Dhammasena, salah satu saudara Dharma Bhante Hemaloka, ternyata hobi memotret. Ia bahkan punya blog yang berisi foto-foto yang diambilnya dengan kamera handphone 3.0 megapixel. (bisa dilihat di sini: http://adureliveema.blogspot.com/p/photos.html)


Ia terlihat sangat antusias saat bisa punya kesempatan belajar menggunakan kamera SLR. Sembari Bhante Dhammasena menggunakan kamera SLR saya untuk eksplorasi, sekarang saatnya sangat tepat bagi saya untuk memotret dia bereksplorasi menggunakan kamera handphone saya! Haha. Bahkan seluruh foto di post saya ini hanya menggunakan kamera dari handphone saya. Saatnya sejenak beristirahat bagi saya, bahkan sejenak mengistirahatkan keinginan untuk memotret.

Belajar memotret dalam keadaan low-light.
Belajar memotret model.
Bahkan setting pun penting!
Bhante Dhammasena mengupdate blog-nya.

Pagi hari keesokannya, saya merasa sangat beruntung bisa melihat senyum anak-anak Kolombo di sekolah-dharma yang diadakan setiap minggu oleh Bhante Hemaloka. Rupanya setiap minggu ia rutin pulang-pergi dari Kandy-Kolombo-Kandy hanya untuk bisa mengajar sekolah minggu ini. Untuk detail tentang dharma-school ini bisa ditunggu di posting-an berikutnya!

Bhante Hemaloka memimpin sekolah minggu (dharma school).


Patung Bunda Maria di persimpangan depan biara.

Minggu sore, saatnya untuk kembali ke kampus kami di Kandy. Kali ini kami memutuskan untuk naik kereta api kelas ekonomi supaya saya bisa melihat suasana baru. Saya mengeluarkan biaya sekitar 200 LKR (sekitar Rp 15.000,00) untuk 2,5 jam perjalanan. Dibanding naik bus ternyata lebih cepat satu jam. 

Berada di Sri Lanka sambil membaca buku persis di samping pintu kereta ekonomi sambil menikmati semilir angin sepoi yang kadang bercampur aroma dari kamar mandi kereta api. Ah, andai saya bisa menemukan kata tepat untuk merangkum dan menggambarkan semuanya!


Dalam kereta ekonomi Kolombo-Kandy!

***semua foto diambil menggunakan kamera handphone!

8 comments:

Vina said...

Proud of you Mahatma Putra! Seandainya saya punya kata-kata untuk menggambarkan kebahagiaan saya melihat petualangan sahabat saya ini. Selamat menikmati dan mengamati yah Put...

Riri said...

Wow Putra! Aku seneng baca cerita pengalaman dan perjalananmu selama belajar Buddha di Sri Lanka... I'm glad you're doing it! Semoga kamu menemukan apa yang selama ini kamu cari dan pengalamanmu bisa memberikan pelajaran yang sangat istimewa...

Aku tunggu cerita-cerita selanjutnya yaa...

:)

sketsa yusuf said...

waahhhh....ngiri banget gw put. gw punya cita-cita juga keliling tempat2 baru sambil bikin sketsa dari tempat yang gw kunjungi. ditunggu cerita selanjutnya :)

Ninies said...

Aaaah Putra turut gembira nih baca tulisan yang ini! :D SERU BANGET! Iri juga dari kecil gue cuma mau 'belajar agama' agama Budha. Dan sebagai seorang vege, gue mau banget ke Sri Lanka International Buddhist Academy (plus nyobain menu vegetarian di cafetarianya yang foto2nya bikin ngiler :p) hehehe

Good luck, ya disana. Semoga bisa menyerap sebanyak-banyaknya dan pulang kesini buat nyebarin sekeren-kerennya. Kalo pulang2 tau2 mau bikin semacam akademi Buddha gratis (mirip sekolah alternatif) buat anak putus sekolah, gue orang pertama yang bersedia di hubungin! \m/

Take care!

“Those who are free of resentful thoughts surely find peace.” - Buddha quote

+Ninies

Anonymous said...

wkwkkwkw thanks to google translate I could read your post... and also drool over the delicious vegetarian meals in Sri Lanka. I hope every day is istimewa for you there Le Petite Prince!


Jonathan Livingston Seagull :))

Mahatma Putra said...

Vinaa! Thanks ya broo :)) gue terharu mendengar kata-kata lo Vinn. Kangen deh gue kapan ya bisa bertualang bareng lo lagi. Hehehe!

Mbak Riri!! Makasih ya Mbak Riri. Ikuti lagi dong cerita-cerita berikutnya. Hehe.

Fandi!! Thanks ya, gue juga tunggu cerita-cerita & sketsa-sketsa lo ya!

Ninies! :)) Wah lo vegetarian? Seru lho di sini banyak bgt emang vegetarian, pasti lo seneng deh :) Thanks ya Nies, gue tunggu ya kapan kita bisa kerja bareng lagi pasti seruu :)

Jonathan Livingston Seagull! :) yes every moment is istimewa!! Next post is in English so you don't need to use google translate :p

Barmen Simatupang said...

Put, elo mengingat gw dengan lyrics yang di tulis oleh Neil Young.

Heart Of Gold

I want to live,
I want to give
I've been a miner
for a heart of gold.
It's these expressions
I never give
That keep me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.
Keeps me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.

I've been to Hollywood
I've been to Redwood
I crossed the ocean
for a heart of gold
I've been in my mind,
it's such a fine line
That keeps me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.
Keeps me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.

Keep me searching
for a heart of gold
You keep me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.
I've been a miner
for a heart of gold.

Good Luck, Bro.

Barmen Simatupang said...

Put, elo mengingatkan gue dengan Lyrics yang ditulis oleh Neil Young.

Heart Of Gold

I want to live,
I want to give
I've been a miner
for a heart of gold.
It's these expressions
I never give
That keep me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.
Keeps me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.

I've been to Hollywood
I've been to Redwood
I crossed the ocean
for a heart of gold
I've been in my mind,
it's such a fine line
That keeps me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.
Keeps me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.

Keep me searching
for a heart of gold
You keep me searching
for a heart of gold
And I'm getting old.
I've been a miner
for a heart of gold.

Good luck, Put.