Monday, November 8, 2010

Mencatat Konsep Alternatif Keperawanan

“I think people should be free to engage in any sexual practices they choose; they should draw the line at goats though.” - Elton John
Photo: Mahatma Putra's Personal Archive

Aksara adalah simbol keadaban manusia. Dengan akrasa akhirnya manusia bisa mencatat dan berbagi kisah hidup, pengalaman personal, pengalaman masyarakat, bahkan pengalaman bangsa dari generasi ke generasi.

Pencatatan akhirnya menjadi sesuatu yang penting untuk menilai validitas sebuah peryataan yang terkait dengan masa lalu --yang secara tidak langsung mengikat masa depan.

Sebuah pernyataan selalu bergantung pada asumsi, syarat dan pilihan. Asumsi kemudian mengarahkan manusia pada pembuatan hipotesa yang sarat dengan syarat sebagai pemenuhan sebab-akibat, dan meninggalkan tidak hanya satu, tapi berbagai macam pilihan atau alternatif kesimpulan yang mengarah pada suatu nilai kebenaran.

Dalam berasumsi manusia tidak pernah lepas dari hasrat dan pandangan subjektifnya dalam melihat suatu permasalahan. Contoh nyata dari pernyataan yang lahir dari asumsi, menuju hipotesa, dan menjadikan beberapa pilihan kebenaran adalah stereotipe.

Melalui stereotipe pernyataan hadir dalam bentukan asumsi yang ada lewat pengalaman empiris banyak orang. Kemudian bentukan stereotipe itu berusaha direka-reka untuk menjadi sebuah kesimpulan, dimana bentukan kesimpulan itu akhirnya tidak tunggal, namun bisa jadi bercabang menurut kacamata nilai masyakat penilainya.

Asumsi selalu membutuhkan syarat dalam pembentukannya. Asumsi tidak pernah lepas dari atribut dalam membuat pernyataan, baik atribut tersebut nyata maupun abstrak.

Salah satu atribut yang tidak pernah tidak menarik untuk diperbincangkan di Indonesia adalah atribut yang menjadi tolak ukur keperawanan perempuan Indonesia, yakni selaput dara.

Perawan --yang juga adalah atribut abstrak perempuan-- menjadi kian penting dewasa ini. Ditandai dengan maraknya wacana tes keperawanan yang dilemparkan oleh DPRD Jambi dan Kalimantan tengah untuk membuat tes keperawanan bagi siswi SMP dan SMA sebagai salah satu alat bantu dalam peningkatan mutu akademik.

Entah sejak kapan konsep keperawanan telah dicatat oleh berbagai bangsa di dunia sebagai simbol dari kesucian. Peradaban mesir kuno mencatat cerita tentang Dewa Horus yang dilahirkan oleh seorang perawan. Begitupun ajaran Nasrani mencatat Santa Perawan Maria sebagai ibu dari Yesus Kristus. Banyaknya kisah spiritual tentang para perawan pada akhirnya meletakkan nilai agung dan suci perempuan, terutama perempuan muda, pada pengalaman seksualnya.

Kedua atribut di atas --keperawanan dan selaput dara-- yang kemudian menjadi salah satu alat ukur untuk menilai perempuan, merupakan secuil contoh dari banyak lagi cara untuk mengukur nilai manusia berdasarkan standard yang lahir dari berbagai pencatatan yang pernah ada. Terlepas dari apakah standard masyarakat itu kemudian lahir dengan penuh pemikiran, perenungan, dan kebijaksanaan yang mendalam, atau justru malah lahir dalam ketidak-sadaran masyarakat, ketulian masyarakat akan gagasan dan kebutaan akal pikiran karena belenggu sistem dan nilai sosial yang kaku dan tidak dapat diragukan, dipertanyakan dan didiskusikan.

Pencatatan pada mulanya bukanlah menjadi sebuah patokan standard akan masa depan, tapi hanya alat berbagi untuk kemudian dijadikan alat refleksi --termasuk kitab suci. Sehingga pencatatan semua teks yang ada tidak pernah lepas dari konteks zaman saat ia ditulis, sehingga dalam mentafsir dan memahaminya sangat diperlukan untuk juga mengerti akan tujuan, fungsi, dan tradisi asalnya.

Pada akhirnya pencatatan kemudian dimaknai sebagai cara untuk membuat sebuah tolak ukur dari sebuah pengalaman. Padahal pemaknaan sebuah nilai pada akhirnya akan selalu bergeser karena adanya alternatif dan pilihan untuk membentuk sebuah kesimpulan yang baru dan lain atas dasar fenomena yang sama, sehingga pencatatan akan sebuah pergeseran nilai dalam sebuah kebudayaan juga adalah kontribusi yang sangat penting dalam pembangunan karakter dan masa depan sebuah bangsa dan manusia secara spesifik.

Indonesia sedang mengalami gejolak kecil dalam menanggapi pergeseran konteks keperawanan, dan anak muda sebagai pelaku dan pengamat yang dekat sudah selayaknya kemudian bertugas untuk menjadi pencatat pergeseran makna ini. Semakin banyak opini, pemikiran, dan pandangan subjektif dalam menilai fenomena ini, niscaya akan semakin banyak kontribusi pemikiran dan pandangan baru untuk membuat standard baru tentang keperawanan yang lebih objektif, karena perlu untuk selalu dipahami bahwa objektivitas tidak lebih dari subjektivitas kolektif.

Sebagai seorang muda juga, saya ingin mencatat pemikiran subjektif saya tentang nilai keperawanan. Secara sederhana saya punya pendapat bahwa keperawanan adalah atribut abstrak yang memperbudak perempuan, dan pada akhirnya hanya membawa permasalahan baru yang menyita waktu dan pikiran sementara masih banyak permasalahan pelik lain tentang hidup dan tentang bangsa ini yang harus dicari solusinya. Saya percaya bahwa nilai seorang perempuan sangat terlepas dari bentukan pengalaman seksualnya. Bagaimana dengan anda?

No comments: