Tuesday, November 16, 2010

Imaji Lennon

“Imagine there’s no heaven, it’s easy if you try.
No hell below us, above us only sky.
Imagine all the people, living for today.”
Bayangkan sebuah dunia tanpa surga, dimana manusia hidup berdampingan, kemudian memikirkan bagaimana mereka dapat hidup untuk hari ini saja.

Sepenggal esensi kemanusiaan di atas, yang pernah dipopulerkan John Lennon tersebut, mungkin tidak akan pernah leleh dibakar oleh api kemarahan dan kebencian yang telah memperkosa umat manusia sejak awal tercatatnya berbagai macam kisah, roman dan tragedi kemanusiaan dari awal mula spesies homo sapiens berevolusi.

Lennon sama sekali bukan seorang jenius yang luar biasa bertalenta untuk dapat menggubah susunan simfoni dan lirik yang telah lebih dari lima dekade menggugah manusia untuk membangun pelbagai cara membentuk dunia yang lebih damai. Ia hanya seorang yang cukup sensitif untuk merespon harapan umat manusia dan mengejewantahkannya lewat bahasa universal manusia, yakni musik.
Bumi ini sudah tua, tapi dunia ini belum pernah dewasa. Bumi ini bijaksana, namun manusia beringas.
Bumi ini sudah tua, tapi dunia ini belum pernah dewasa. Bumi ini bijaksana, namun manusia beringas. Sejak awal mula peradaban, manusia mengenal bahwa kepal tangannya, dipadu dengan benda tumpul seperti bonggol batu, dapat dipergunakan sebagai senjata untuk menguasai dan menindas demi kepuasan ego personal dan kelompok.

Bahkan hingga hari ini, saat ilmu pengetahuan dan teknologi –yang merupakan instrumen kemajuan umat manusia—menebas dan menyimbah darah kesana-kemari bak pedang liar yang tajam tanpa gagang, manusia masih bergulat dengan keberingasannya sendiri, dengan dirinya dan sesamanya. Mencoba mencari satu nilai yang dapat menyatukan seluruh penduduk bumi.

Merujuk pada ucapan Obama pada kunjungannya ke Universitas Indonesia pada tanggal 10 November lalu, ia mengatakan tentang keberagaman Indonesia yang mirip dengan Amerika menimbang banyaknya etnis dan suku bangsa yang hidup bersama dan berdampingan dalam satu payung sistem masyarakat yang sama, sehingga potensi konflik tumbuh menjadi lebih dari sekadar wacana abstrak.

Sampit, Poso, Ketapang, Ahmadiyah, penusukan pendeta HKBP, Mbah Priok, hanya beberapa kata kunci dari banyak lagi fenomena yang dapat difungsikan untuk mengidentifikasi begitu banyaknya konflik di Indonesia yang terjadi karena ketidakdewasaan dan ketidakmampuan manusia Indonesia dalam mengatasi masalah yang timbul dari keberagaman dan perbedaan yang seharusnya melukis nusantara dengan pelbagai warna-warni corak budaya yang bhineka.

Jurgen Habermas, seorang filsuf kenamaan dari Jerman yang menjadi penjaga gawang filsafat modern, dalam wacana pos-sekularismenya mengatakan bahwa dalam manajemen konflik, resolusi akhirnya dapat tercapai dengan studi tentang sejarah. Karena dari sejarah kemudian manusia akan selalu dapat belajar untuk tahu bahwa perbedaan bukanlah sebuah “barang baru,” yang mengagetkan umat manusia dengan kehadirannya.
Karena dari sejarah kemudian manusia akan selalu dapat belajar untuk tahu bahwa perbedaan bukanlah sebuah “barang baru,” yang mengagetkan umat manusia dengan kehadirannya.
Namun ketidaksadaran dan ketidakperdulian masyarakat lalu meletakkan perbedaan sebagai sebuah komoditas yang kemudian dapat dikontrol dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan sebagai kendaraan politik yang sangat peka terhadap ekspose media masa.

Tragedi Ampera-Blow Fish mungkin adalah tonggak terakhir eksposure media dalam tragedi kemanusiaan yang kemudian secara tidak langsung mempersalahkan keberagaman –mengesampingkan fakta bahwa keberagaman itu sendiri telah ditunggangi ego dan kepentingan tertentu—menimbang saat ini eksposure media sedang senantiasa mengingatkan akan rudungan duka mendalam bangsa Indonesia atas bencana Wasior, Mentawai dan Merapi, yang mengangkat simpati, kebutuhan rasa solidarisme, kebersamaan dan kemudian pada akhirnya meredakan berbagai potensi konflik dan menjadikannya laten kembali.

Pada bait pertama “Imagine,” Lennon berandai akan suatu masa dimana manusia dapat memahami konteks “Hidup untuk hari ini.” Kata-kata yang mungkin terdengar dangkal dan biasa saja bila tidak dimaknai, direnungi dan dialami ini, sesungguhnya adalah sebuah kebijaksanaan purba yang secara sporadik berkembang melalui berbagai latar belakang budaya dan kearifan lokal yang berbeda.

Dalam nasehat suci-Nya Buddha Chi Kung mengatakan “Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau dikhawatirkan?” Kemudian juga dalam kitab suci umat Nasrani tertera “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Dalam versi  yang lebih cadas dan sinis, Janis Joplin mengatakan bahwa esok tidak pernah terjadi, yang ada hanya hari ini. “Tomorrow never happens man! It’s all the same fucking day!”

Pesannya singkat, lugas dan sederhana: Lakukan yang terbaik untuk hari ini, karena hari ini nyata. Esok dan kemarin adalah sebuah konsep abstrak yang mengikat manusia, namun tidak akan pernah dapat memperbudak dan menjadi tuan atas hidup manusia. Sehingga pada akhirnya kekhawatiran atas esok dan penyesalan atas kemarin adalah sebuah kesia-siaan.

Hari ini masyarakat Indonesia bahu-membahu, dalam skala nasional bersatu-padu mengerahkan segala daya dan kemampuan mereka untuk membantu para korban bencana Wasior, Mentawai dan Merapi tanpa memandang atribut suku, agama dan ras mereka.

Dalam masa tanggap bencana yang hampir berakhir, bangsa ini dengan segenap kemampuannya telah berhasil mengatasi dampak bencana secara bersama-sama. Hari ini masyarakat Indonesia berhasil mengatasi perbedaan-perbedaan demi nilai kearifan dan kemanusiaan yang lebih tinggi. Mereka mengungkapkan cinta kepada sesama.

Hari ini pula letusan Merapi sudah mereda. Namun bangsa Indonesia masih punya pekerjaan rumah setiap harinya  untuk meredam potensi laten perbedaan yang setiap saat dapat meletuskan bencana, yang bahkan mungkin akan lebih miris dan lirih akibat dari konflik yang seharusnya tidak pernah ada jika bangsa ini dapat dengan dewasa menghadapi segenap perbedaan yang ada.
“Imagine all the people, living live in peace.”
Semoga imaji Lennon tetap hadir untuk mengiringi perjalanan bangsa ini dan dunia, untuk kemudian dapat dipahami dan dimaknai sebagai harapan dan cita-cita seluruh penduduk bumi.

1 comment:

Anonymous said...

ah sorry nih, menurut gw kalo lo nyatuin Lennonism sama keadaan Indonesia...gk padu tuh...jelas jauh esensinya lah...yah pendapat aj si...haha

geraldo