Thursday, September 23, 2010

Hidup dan Jalan

Foto: Arsip pribadi Mahatma Putra

Hidup mungkin sama dengan jalan-jalan Jakarta. Suatu saat aku pernah bertanya pada adikku, "Putri, kalau jalan itu adalah hidup, lebih baik kamu tinggal di jalan tol atau di jalan biasa seperti di luar sana?" Kebetulan saat itu kami sedang berkendara di jalan tol menuju Bandung.

Adikku menjawab, "Di jalan biasa-lah!"

Aku mengerti sekali jawabannya. Tanpa ia menyebutkan alasan sama sekali aku juga tidak akan pernah ragu untuk menjawab hal yang sama.

Berjalan di lajur bebas hambatan seperti 'mencurangi' hidup dengan berbagai macam alasan untuk menghindar dari berbagai macam masalah yang seharusnya dihadapi muka ke muka dalam hampir tiap saatnya.

Kadang jalan tol membuat segalanya lebih mudah. Kita terbebas dari sistem, bisa melaju sesukanya (kadang batas kecepatan maksimum dan minimum tidak pernah ada), berada di jalur yang notabene lebih luas dan disana tinggal sedikit sekali manusia. Tetapi tentu harus dengan beberapa bayaran di gerbangnya, entah bagaimana nasib mereka yang tidak mampu untuk membiayai diri mereka masuk ke dalam tol. Bahkan untuk masuk ke dalam tol pun anda harus punya mobil, tidak bisa jika anda memakai motor.

Saat berkendara mungkin manusia sedikit lebih dekat kepada Tuhan dan alam bawah sadarnya mungkin. Karena kadang saat sedang mabuk pun kita tetap bisa berkendara pulang bukan? Ini sama sekali bukan anjuran untuk menjadi seorang drunk-driver, tapi kadang manusia hampir mencapai saat trance mereka di jalan raya. Sepertinya banyak sekali pengandaian akan hidup yang bisa saya dapat hanya dari berkontemplasi di jalan raya.

Jalan raya dan hidup adalah sebuah tempat yang identik dengan perjalanan. Manusia yang bergerombol begitu banyak berjalan masing-masing untuk suatu tujuan. Ada yang jauh sekali, ada yang dekat sekali, ada yang jalurnya rusak, ada yang terburu-buru, ada yang santai, ada yang mogok, ada yang membantu orang mogok dan tertimpa kecelakaan tanpa mengharap imbalan, ada yang sebaliknya, dan seterusnya.

Sistem jalan raya juga adalah sebuah sistem yang manusia -terutama manusia Jakarta- coba buat dengan seapik mungkin, mencoba meyenangkan semua pihak, biarpun kadang lampu merah dari sisi barat lebih lama tigapuluh detik dari lampu merah di selatan, padahal jumlah mobil yang ada di kedua sisi berbanding terbalik dengan lama waktu lampu hijau menyala.

Suatu kali ada seorang istimewa sedang bersamaku, kami berpikir dan berbincang lama, "Sistem itu jahat sekali ya!" Mungkin. Sistem jalan raya di Jakarta dan sistem bermasyarakat di dunia sepertinya akan selalu mendapat kritik dan saran untuk diperbaiki. Banyak orang berbincang membicarakan kebobrokan sistem tersebut, kadang memaki, bahkan tidak jarang saling adu jotos. Tapi jarang yang sadar untuk berusaha menyadari bagaimana keadaan akan jauh lebih buruk tanpa sistem. Paradoks sistem yang luar biasa.

Wacana perbaikan sistem kadang berubah menjadi realisasi nyata. Kadang. Tapi lebih sering mereka para pengkritik sistem hanya duduk diam dan tidak sadar bahwa mereka sendiri menjadi oknum yang telah merusak sistem dengan mengendarai kendaraan pribadi baik mobil maupun motor, sementara angkutan umum semakin melompong. Prestise memang segalanya di jalan raya. Di hidup manusia.

Pemberian hak istimewa bagi beberapa kalangan untuk berada di atas sistem tidak jarang didapat oleh mereka yang mempunyai kedudukan dan jabatan. Mudahnya untuk menerobos jalur 'macet' saat ada uang dan kawalan dari para aparat penegak hukum di depan dan belakang mereka.

Indahnya sistem yang rusak. Karena tanpa sistem yang rusak kita tidak akan pernah tahu bagaimana sebaiknya sistem ideal dibangun. Nyata dan bebas dari keberpihakan.

-

Socrates pernah berkata, "Tubuh adalah penjara jiwa."

Ini adalah sebuah ungkapan yang sering dan lazim diterima oleh kita semua. Maaf, yang akan saya sampaikan berikut ini sekedar pandangan subjektif, lepas dari stereotipe apapun yang ada di dalam masyarakat dan pandangan pribadi pembaca masing-masing.

Mobil, motor dan angkutan umum, mana yang terbaik? Menilik pengandaian di atas, kadang aku merasa mobil adalah tubuh yang memenjara jiwa. Dalam mobil pribadi kita bisa melihat hujan, orang berhantam karena kecelakaan, polusi yang menyesakkan, razia SIM dan STNK yang lebih sering dikenakan pada pengendara sepeda motor, tanpa merasakannya lewat indera nyata, mirip dengan konsep goa bayangan Plato. Berada dalam mobil pribadi adalah tempat terbaik melihat banyak sekali bayangan tanpa mengalaminya. Aman dan nyaman dari segala kerepotan yang kadang sebenarnya tidak perlu dan kadang sangat dibuat-buat. Tapi bukankah untuk merasa aman dan nyaman bukanlah suatu kesalahan? Penjara tidak selamanya tempat yang buruk.

Di sepeda motor kita bisa mendengar makian dan umpatan orang sebelah lebih jelas, merasakan tetes hujan yang membasahi sekujur tubuh sampai kadang dipaksa untuk sebentar berteduh, dan menurut saya salah satu yang terparah adalah menghirup asap knalpot bus kota yang entah kenapa bisa lulus uji emisi. Tapi bukankah akhirnya mereka pengendara sepeda motor banyak sekali belajar dengan pengalaman mereka? Bukan hanya dengan wacana dan melihat dari zona nyaman tanpa mengalami.

Mereka mengalami dan mendapat kebebasan yang jauh lebih nyata, yang akhirnya terlalu sering disalahgunakan. Kebebasan mereka membuat trotoar pejalan kaki menjadi "lajur khusus motor," berjalan zigzag, sedikit menyerempet spion mobil dan baret sedikit di badan mobil, serong kiri-serong kanan bebas tanpa hambatan adalah sesuatu yang biasa. Bahkan saat malam hari jalan umum adalah ajang unjuk gigi bagi sebagian dari mereka. Trek-trekan liar sudah hal umum. Sangat dimaklumkan. Lucu sekali bahkan ternyata bebas dari penjara juga tidak selamanya baik.

Mungkin kendaraan umum adalah sebuah perpaduan yang sangat ciamik dan menarik untuk menyelesaikan banyak permasalahan sistem, kebebasan dan perasaan terpenjara. Lepas dari mode transportasi seperti kereta, bus, mikrolet, bahkan gethek, angkutan umum adalah tempat terbaik untuk menerapkan sebuah kebebasan kolektif yang sangat indah. Salah satu contoh paling nyata adalah bagaimana bisa manusia belajar berbagi di kesesakan, tetapi di lain pihak sebagai imbalan untuk mereka, waktu, emosi, dan konsentrasi mereka  di jalan raya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berguna, apapun bentuknya, entah saat penuh sesak atau lowong, saat berdiri atau duduk, pasti banyak sudah kegiatan yang terlintas di kepala anda untuk menghabiskan sedikit waktu.

Bahkan mungkin jika angkutan umum adalah sesuatu yang populer, tidak lagi dikritik melulu karena ketidak nyamanannya mungkin tidak akan ada lagi orang yang ingin berkendara pribadi saat tidak ada keperluan mendesak. Semoga akhirnya prestise -yang notabene tidak pernah ada dan merupakan hasil konstruksi masing-masing mereka, saya, dan kamu sebagai manusia yang tidak pernah lepas dari jalan- hilang sirna.

Banyak sekali yang dapat dipelajari dari jalan, seperti juga banyak sekali hal yang bisa didapat dari hidup. Bagi saya pembelajaran yang paling cocok adalah berkendara dengan vespa. Paling tidak ini yang saya rasakan sekarang, lepas dari pengetahuan saya bahwa vespa dan sepeda motor identik dan hanya dibedakan dengan perbedaan mendasar seperti bensin vespa yang lebih boros dan menghasilkan lebih banyak polusi. Ya, memang vespa lebih tidak ramah lingkungan. Tapi satu hal nyata yang sangat saya apresiasi adalah solidaritas pengguna vespa dimana menurut saya adalah sesuatu yang paling nyata ada. Bagaimana saling bantu dan sapa merupakan nilai yang sekarang sangat langka dijumpa.

Tapi lagi-lagi ini hanya sebuah pandangan subjektif tentang hidup, sama seperti anda akan memilih sendiri apa kendaraan yang paling cocok untuk anda. Mungkin hari ini saya atau anda akan menggenjot sepeda dan menjadi penggila kampanye bike to work. Semoga dan mungkin saja. Siapa yang tahu?

No comments: