Sunday, September 5, 2010

4 September 2010, Membendakan Manusia


Kamu menggerayangi tubuhku,
dengan sepoi hembus nafas angin sore.
Kamu, teganya,
sekarang kamu membuatku masuk angin.
Hebat kamu, tuhan.

Photo: Mahatma Putra's Personal Archive

_

Ini adalah sebuah kisah fiksi dan opini pribadi. Pengandaian pemikiran manusia masa depan. Mari sekarang saya bawa anda semua berkelana mengarung samudera masa -karena sepertinya kemarin saya berhasil menembus dimensi. Nah. Sekarang indonesia sedang berada di penghujung tahun 3000 masehi, apa yang berubah? Salah satu yang signifikan adalah ilmu pengetahuan.

Sebenarnya eksperimen ini sudah ditemukan umat manusia sekitar tahun 2000 masehi. Dengan alat-alat canggihnya, mereka telah membelah atom menjadi bentuk terkecilnya, yaitu ketiadaan, manusia telah menemukan tentang ketidakberadaan yang ada. Karena ternyata pecahan terkecil dari proton dan elektron adalah ketidakberadaan. Manusia berada karena pada dasarnya mereka adalah bentukan partikel ketidakberadaan, mereka tidak ada. Manusia melihat benda lain tidak bereksistensi, setidaknya itu yang diakatakan Heidegger. Tidak, manusia bukan bereksistensi terlebih dahulu, baru kemudian dia menemukan esensi dirinya. Manusia mengobjekkan esensi itu sendiri. Sedangkan mungkin, kursi dan bangku, keyboard yang saya ketuk, atau layar monitor di depan saya mencoba menemukan cara untuk bereksistensi, melalui manusia. tapi manusia menganggap sesuatu yang diluar manusia bukan benda yang, atau tidak lagi melakukan kegiatan bereksistensi. Pada kesimpulannya manusia bereksistensi karena mencari esensi manusia, atau setidaknya konsep tentang manusia itu sendiri, padahal menurut pernyataan di atas, maka yang sebaiknya manusia lakukan adalah menjadikan diri mereka sama dengan gelas, es krim, keping dvd, gelang, atau apapun. Menjadikan benda mati sebagai kita, sebagai subjek, sebagai persona, diri manusia itu sendiri. Tetapi bahkan saat manusia menjadikan benda di luarnya sebagai sebuah subjek, sebenarnya mereka mencari eksistensi mereka dalam kekecewaan dan keputusasaan, karena pada hakekatnya mereka tidak bisa bereksistensi tanpa menjadi sebongkah benda, selama masih ada predikat transendensi adalah sesuatu yang diluar objek dan subjek tersebut, manusia tidak pernah mencapai tahap keberadaannya. Objekkanlah dulu subjek manusia tersebut, baru kemudian manusia bisa mensubjekkan objek2 tersebut di atas.
_

Itulah manusia masa depan, tetap berkutat tentang pencarian diri mereka. Karena sesungguhnya, seajaib apapun masa depan itu. Bahkan jika mesin waktu pun, dapat dicptakan pada akhirnya, manusia tetap bereksistensi untuk mengartikan hidup pada suatu masa. Eksistensi tidak akan terjadi tanpa adanya masa, zaman, atau waktu. Waktu terjadi karena kesinambungan objek 3 dimensi yang terjewantahkan lewat pengelihatan kita, termasuk indera-indera lain selain pengelihatan. Sehingga dengan indera manusia tidak akan pernah bisa bereksistensi secara sempurna, karena  tanpa waktu, tanpa massa, hanya dengan ruang, segala bentuk adalah dua dimensi. Dimensi menjadi tiga karena adanya waktu. Maka kemudian indera yang dihilangkan justru akan mengantar pada kekosongan. Manusia menjadi benda, benda mati tentunya, dan dengan berada di luar diri sendiri, dengan tidak merasakan tangan, kaki, bahkan akhirnya ruang dan waktu, manusia akan merujuk pada ketiadaan yang membawa kepada suatu keberadaan. Ada karena tidak ada, dan tidak ada karena ada.

Mungkin, manusia menjadi tua setelah mereka menemukan ketidak-beradaan mereka di dunia. Anak muda selalu ada. Mereka vokal dan bereksistensi. Mencoba menenggelamkan diri dalam ideologi. Mereka bukan diri mereka. Mereka adalah ideologi mereka, dan idiologi mereka adalah mereka. Setidaknya ini contoh termudah dan tersederhana yang bisa saya berikan. Jauh berbeda dengan pengandaian di atas, tapi masalah menjadi tua di sini adalah contoh semata.

_

Seorang manusia masa depan tidak akan pernah tua. Setidaknya, setelah mereka akhirnya bisa menemukan bahwa ketidakberadaan adalah sesuatu yang ada. Pasti. Seribu tahun lagi manusia bukan hanya bisa terbang ke bulan, tapi ke surga. Meraih sel tuhan. Menggapai sel lain dari tuhan, yang kemudian mengejewantah dalam diri manusia. Ya, manusia akhirnya bereksistensi untuk menjadi tuhan, untuk menjadi alam semesta, untuk menjadi satu dengan alam semesta ini.

Di tahun 3000 masehi, mungkin ada manusia yang menulis hal yang sama dengan yang saya tuliskan sekarang. Seribu tahun lagi, bahkan saat manusia bisa berkelana melampaui waktu dan dimensi. Tetap, persoalan eksistensi akan selalu menjadi diskursus abadi. Atau seandainya, jika mereka semua berhasil menemukan esensi manusia segamblang manusia menemukan esensi televisi, mereka tidak perlu lagi bereksistensi. Mereka lenyap. Seperti yang dulu pernah dilakukan bangsa Maya. Mungkin.

No comments: