Sunday, August 8, 2010

Primata, Blues dan Bir*

There Must be A Better World Somewhere, ketukan lambat dan lengkingan gitar Riley B. King menggiring bias sinar diantara kepulan asap rokok yang memenuhi ruangan berbau bir, berbau blues.

Seperti apa bau blues itu? Entah, aku hanya ingat bau blues itu mirip bir. Pahit tapi menyegarkan.

Pertama kali aku mengenal blues di remang malam Passer Baroe, di sebuah galeri foto tua. Tempat aku biasa melihat foto hitam putih yang menyanyikan kebiruan yang sedang aku dengarkan. Sebuah blues. Sebuah kenyataan.

Pertama kali aku mengenal bir di Bali. Saat itu seharusnya aku sedang senang, tapi aku sedih. Aku meniru adegan di film. Sedih kemudian minum alkohol.

Tapi kemudian aku tidak menjadi senang. Aku menikmati kesedihanku. Luar biasa. Disinilah blues dan bir bertemu.

Itu sudah lama sekali. Wajar, pikiranku memang suka kemana-mana. Kembali ke ruanganku sekarang diantara para manusia yang sibuk mendengar B.B King. Mereka asyik menuang bir, bercumbu dan berbual. Entah dimana pikiranku sekarang. Mataku berkeliling. Aku tidak suka berbicara saat mendengar musik dan menegak bir. Aku suka melihat, aku suka bebincang, tapi dengan otakku sendiri. Kadang aku jadi merasa sangat sepi. Sangat sendiri.

Untukku rimba kota sama dengan hutan belantara. Aku tetap sepi, tetap sendiri. Sekelilingku isinya cuma binatang lain yang susah diajak bicara.

Di kanan aku melihat seekor bapak tua berhidung besar berwarna merah, seekor bekantan bongsor. Menegak bir sambil memangku seekor moyet kecil berpantat merah, bersiap untuk menjantaninya. Setahuku bekantan punya sistem harem dalam kehidupannya. Mungkin ini salah satu calon penghuni haremnya nanti kupikir.

Di kiri aku melihat gorila hitam. Membanggakan banyaknya bir yang berhasil dia tegak kepada teman-teman gorilanya juga. Seekor lemur lewat kemudian ditendangnya, dilludahinya, dipukuli beramai-ramai. Gorila tidak memakan lemur, hanya ingin bersenang-senang, menjadi jantan.

Di depanku gerombolan orangutan bergoyang, bertepuk tangan, menari, tertawa. Aneh, apa yang dirayakan dari sebuah blues?

Di belakang aku melihat gerombolan kera betina sedang bergunjing. Aduh, senang sekali mereka bergunjing dan tertawa-tawa. Aku lihat mata mereka melirik-lirik ke arah si bekantan bongsor itu. Mungkin salah satu penghuni haremnya adalah teman mereka, dan para betina itu senang saat ada sesamanya yang lebih tidak sesempurna dirinya. Mungkin. Aku bukan kera betina. Tapi aku juga primata.

Tenggelam aku dalam lamunan dan lantunan. Primata mungkin satu-satunya mahluk yang mengerti blues. Mengerti bir. Mengerti bagaimana menikmati rasa sakit.

Bagiku lucu jika golongan primata disebut primata. Dalam bahasa latin kata “primata” itu sendiri adalah “yang pertama, terbaik, mulia.”

Ah sudah, jangan dipikirkan lagi. There Must be A Better World Somewhere sudah hampir selesai, mungkin B.B King juga sudah cape dengan harapan akan dunia yang lebih baik. Cukup blues dan bir untuk para primata, yang semoga kelak menjadi manusia.

* Terinspirasi dari karya Seno Gumira: Jazz, Parfum dan Insiden

No comments: